Oleh : Dedeh Lisna Lestari,S.Pd
Sekolah adalah rumah kedua bagi seorang santri, stakeholder diantaranya ada seorang guru. Sering kita mendengar istilah bahwa guru adalah “orang tua kedua”. Namun dalam perkembangannya, peran guru tidak lagi sebatas pendidik atau pembimbing akademik. Mereka menjelma menjadi programmer, bukan dalam arti menulis kode digital, melainkan memprogram satu hal yang jauh lebih rumit yaitu hati dan pikiran manusia. Santri yang setiap hari berada dalam ruang pendidikan berbasis nilai membutuhkan bimbingan yang bukan hanya logis, tetapi juga emosional, spiritual, dan moral. Di sinilah relevansi metafora “ketika angin menemukan kapalnya” menemukan maknanya. Kapal tidak akan pernah bergerak tanpa angin, sebagaimana santri tidak akan menemukan arah tanpa guru.
Dalam perjalanan hidup, setiap santri ibaratkan kapal yang baru mulai mengenal samudra luas bernama masa depan. Mereka membawa potensi, kemampuan, dan mimpi. Namun potensi itu ibarat layar yang diam. Membutuhkan angin untuk mengembang dan angin itu adalah guru. Peran guru sebagai pemicu gerak bukan hanya terlihat saat mengajar di kelas, tetapi ketika mereka menghadirkan inspirasi, memberi nasihat tanpa pamrih, dan menjadi contoh hidup yang layak ditiru. Guru membuat santri tidak hanya paham apa itu kejujuran, tetapi merasakannya sebagai kebutuhan. Inilah inti peran guru sebagai programmer hati, yang membentuk pola batin yang kelak menjadi kompas moral santri di tengah dunia yang terus berubah.
Perkembangan abad ke 21 dalam teknologi tidak dapat kita hindari, kita mencatat bahwa informasi bisa ditemui di mana saja. Internet dapat menjawab semua pertanyaan, bahkan sebelum seseorang selesai mengetik. Tetapi ada hal yang tidak bisa diberikan oleh internet yaitu keteladanan. Di sinilah guru berperan sebagai programmer pikiran santri. Guru membentuk cara berpikir kritis, membimbing cara memecahkan masalah, dan memetakan cara mengambil keputusan yang selaras dengan nilai-nilai pesantren. Mereka tidak menjejalkan hafalan, tetapi merawat logika agar tumbuh sehat. Dalam banyak kasus, santri bukan hanya meniru ucapan gurunya, tetapi meniru cara gurunya menghadapi hidup. Misalkan dalam kontek terkecil dikehidupan sehari-hari yaitu cara menyapa, cara memutuskan, cara meredam amarah, bahkan cara menghargai waktu. Program yang ditanamkan guru bukanlah baris-baris perintah, tetapi baris- baris kebijaksanaan. Bukan sekadar langkah-langkah teoritis, tetapi pengalaman hidup yang telah mereka uji berkali-kali. Itulah yang menjadikan ajaran guru lebih kuat daripada sekadar materi belajar. Pikiran santri diprogram secara perlahan melalui interaksi, diskusi, dan contoh yang konsisten.
Jika santri adalah kapal dan guru adalah anginnya, maka nilai-nilai pesantren adalah arah tujuan pelayarannya. Guru memastikan kapal-kapal kecil itu tidak terombang- ambing oleh arus zaman. Mereka menjadi kompas nilai yang membantu santri menentukan arah keputusan hidup, meskipun kelak mereka berada jauh dari pondok. Banyak alumni pesantren mengatakan satu hal yang sama, yang paling mereka ingat dari guru bukan materi pelajarannya, tetapi nasihat singkat yang mengubah cara mereka memandang hidup, tetap support ketika gagal dalam pencapaian, dan
ketegasan membentuk kedisiplinan. Arah hidup itu ditentukan bukan oleh seberapa banyak materi hafalan, tetapi seberapa kuat nilai yang ditanamkan.
Angin dan Kapal yang akan Terus Berhubungan, Karena keduanya saling membutuhkan. Tanpa kapal, angin hanya menjadi hembusan tanpa tujuan. Tanpa angin, kapal menjadi benda mati di tengah lautan. Ada hal yang menarik dalam ayat Al-Qur’an
وَمِنْ ٰٰايتِهٖٖٓ انَْ يرُّْسِلَ ال ِ’رياَحَ مُبَ ِ’شٰرتٍ وَّلِيذُِْيَقُكْم ِ’منْ رَّحْمَتِهٖ وَلِتجَْرِيَ اْلُفْلكُ بِاَْمرِهٖ وَلِتَْبتغَُْوا مِنْ فَضْلِهٖ
وََلعََّلُكْم تشَُْكرُْونَ
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya adalah bahwa Dia mengirimkan angin sebagai pembawa berita gembira dan agar kamu merasakan sebagian dari rahmat-Nya dan agar kapal dapat berlayar dengan perintah-Nya, dan (juga) agar kamu dapat mencari sebagian dari karunia-Nya, dan agar kamu bersyukur”.
Santri membutuhkan guru untuk menemukan arah. Tetapi guru juga membutuhkan santri untuk menyalurkan ilmu dan keteladanan mereka. Pertemuan keduanya menghasilkan perjalanan yang disebut pendidikan. Dalam perjalanan itu, tentu ada badai kemalasan, kebingungan, konflik usia remaja, kegagalan, ketidakpastian, dan godaan. Tetapi angin yang bijak tahu kapan harus bertiup kencang dan kapan harus lembut. Guru memahami kapan harus tegas dan kapan harus mendengarkan. Itulah seni menjadi pendidik seni memprogram tanpa memaksa, membimbing tanpa mengekang, dan mengarahkan tanpa mengendalikan.
Pada akhirnya, setiap santri yang berhasil bukan hanya karena kecerdasannya, tetapi karena ada guru yang meniupkan semangat di balik layar kehidupannya. Angin tidak terlihat, tetapi kehadirannya terasa. Begitu pula guru. Mereka mungkin tidak selalu berada di panggung kehidupan muridnya, tetapi nilai-nilai yang mereka tanamkan akan selalu mengiringi perjalanan itu. Dan ketika seorang santri kelak berhasil, maka itulah momen ketika angin menemukan kapalnya, pertemuan suci antara guru dan murid yang melahirkan perjalanan hidup dengan arah yang jelas. Guru bukan hanya pencerah ilmu. Mereka adalah programmer bagi hati yang sedang tumbuh dan pikiran yang sedang mencari. Tanpa mereka, kapal-kapal kecil bernama santri tidak akan pernah menemukan jalannya di tengah luasnya samudra zaman.
Selamat Hari Guru Nasional. Semoga setiap angin yang meniupkan kebaikan pada generasi bangsa mendapat berkah, kekuatan, dan kemuliaan yang tidak pernah putus.



Leave a Reply